Minggu, 18 November 2012

Maniak Belanja ? Yok ke Guang Zhou !!! (3)

Maniak Belanja ? Yok ke Guang Zhou !!! (3)

     Bagi Anda yang hobi belanja, tentu pernah mendengar kota satu ini. Sebagian besar produk pakaian, tas, dan barang lain yang masuk ke Indonesia berasal dari tempat ini. Dengan berbagai fasilitas pendukung yang memadai dan harga murah, cukup pantas jika kota ini dianggap sebagai salah satu surga bagi para penggila belanja. 

   
     Dari perkiraan, jadwal pulang terpaksa mundur beberapa hari. Karena kondisi kesehatan Om yang masih belum memungkinkan. Dokter di rumah sakit belum mengizinkan untuk dibawa pulang. Memaksakan diripun percuma, karena fihak imigrasi dan bandara tidak akan memberikan izin jika penumpang dalam kondisi kesehatan tidak layak untuk penerbangan, apalagi tanpa surat resmi dari rumah sakit. Kami pun hanya bisa menunggu hingga kondisi kesehatan Om segera membaik. 
      Di samping kanan rumah sakit, ada jalan menanjak yang ramai dilewati. Jalan tersebut lebar dan mulus-seperti jalan-jalan yang saya jumpai disana selama beberapa hari ini-namun hanya ramai dilalui pejalan kaki, hampir tak ada mobil yang lewat. Karena penasaran, sambil berjalan kaki mencari sarapan Saya mencoba menyusuri jalan ini. Diteduhi pohon-pohon besar dan cantik, saya melalui banyak toko penjual makanan ringan dan teh Cina yang terkenal. Tak lama Saya akhirnya menjumpai suatu pintu gerbang. Hari itu bukan hari libur, tapi kenapa tempat itu ramai sekali. Beberapa orang saya lihat antri membeli tiket. Dari poster yang ada disitu, saya menduga tempat ini pasti suatu tempat wisata. Setelah membeli beberapa roti dan sebotol air minum untuk bekal, saya pun membeli tiket masuk. Harganya murah.


    Setelah gerbang masuk, Saya melihat para pengunjung menuju ke suatu tangga. Tangga tersebut dibuat dari susunan batu alam yang ditata cantik. Saya pun mengikuti pengunjung lain menaiki tangga tersebut. Setelah sekitar lima belas menit mendaki, tak ada tanda-tanda tangga tersebut akan berakhir. Dada saya ngos-ngosan karena lelah, kepala agak pusing karena memang belum sarapan. Saya melihat ada bangku dan akhirnya memutuskan istirahat dulu disitu.  Sambil menikmati roti dan minum air yang segar, saya mengatur kembali nafas yang terengah-engah. Terlihat tak henti orang berduyun-duyun terus mendaki tangga ke atas. Hanya saya yang duduk beristirahat. Beberapa manula lewat dan mendaki bersemangat sambil berbincang gembira dengan teman-temannya, tak ada tanda kelelahan di wajah mereka. Sebenarnya ada sedikit rasa malu saat melihat kebugaran para manula, ini mungkin akibat saya sudah lama tidak berolahraga. Mendaki tangga pun sudah jarang sekali, jika ada lift selalu itu yang saya pilih. 




       Masih ngos-ngosan, saya melihat ke arah atas. masih juga tak tampak dimana ujung tangga ini berakhir. Sempat terfikir untuk turun saja, daripada saya mati kehabisan nafas. Tapi Saya memutuskan untuk istirahat dulu memulihkan tenaga, sebelum nanti memilih apakah terus mendaki atau turun kembali. Karena untuk berjalan turun pun, rasa nya tenaga sudah tak kuat lagi. 
      Setelah nafas normal kembali, saya memutuskan mendaki lagi. Tapi saya berjanji, kelak tak kan lagi saya mendaki seperti ini. Mendaki gunung -walaupun menggunakan tangga- bukanlah wisata yang saya sukai. Tak pernah sekalipun saya mendaki gunung dengan berjalan kaki. Saya pernah naik ke Tangkuban Perahu, tapi mobil yang membawa saya mendaki. Pernah juga ke Gunung Agung, toko buku. 
       Setelah cukup lama mendaki -diselingi beberapa kali istirahat hampir kehabisan nafas- akhirnya sampai juga saya di ujung tangga. Ternyata di atas gunung ini ramai sekali, seperti pasar. Mulai dari anak-anak sampai orang tua ramai disini. Baiyun Mountain, begitu terbaca tulisan di papan nama. 

        Penduduk Negara Cina memang banyak sekali. Walaupun bukan hari libur, tempat ini penuh dan semarak. Mungkin kalau hari Minggu, bisa-bisa tempat ini seperti Pasar Tanah Abang.
          Beragam aktifitas dilakukan pengunjung. Ada yang bermain bulu tangkis, bernyanyi bersama, maupun hanya duduk-duduk bersenda gurau. Berbagai fasilitas sudah disediakan. rumah makan, tempat jajan, dan berbagi wahana permainan anak-anak, malah ada yang membawa bayi.
           Eittss nanti dulu....bayi ? anak-anak ? bagaimana mereka bisa naik kesini ? Kuat sekali orang tuanya menggendong. Trus segala bangunan di atas sini gimana membawa materialnya ? Pedagang-pedagang itu, apa mungkin mereka setiap hari mendaki tangga ke atas sini sambil membawa barang dagangan ? Jalan mulus ini, bagaimana membuatnya di atas sini ? 
         Pertanyaan saya terjawab setelah berjalan beberapa ratus meter. Tampak terlihat beberapa mobil parkir. Berarti mobil bisa naik ke gunung ini. Dari denah besar yang dipampangkan besar di dekat tempat parkir, saya baru tahu bahwa ada cara lain untuk naik ke puncak gunung ini. Ternyata ada beberapa pintu masuk menuju ke atas sini. Salah satunya bisa dengan membawa mobil sendiri atau naik bis yang disediakan (bahkan akhir-akhir ini sudah ada Cable Car atau kereta gantung untuk mencapai puncak). Pantas saja segala umur ada di atas sini. Rupanya jalan yang saya lalui tadi, diperuntukkan bagi pengunjung yang sengaja ingin mendaki. Para manula dan penggemar olahraga memilih rute tadi untuk sekalian berolahraga. Waduuuh...kali ini saya kena batunya. Biasanya saya mau yang enaknya saja. Kalau ada tempat wisata, biasanya mana mau saya memilih yang susah. Ya sudahlah, mau diapakan lagi. Yang penting sudah sampai di atas ini. 

   Meriahnya suasana di atas gunung menemani saya menormalkan nafas. Sambil menikmati sisa roti yang saya bawa, saya duduk asyik menonton para pengunjung bergembira. Para manula perkasa yang ditangga tadi 'mempermalukan' saya, terlihat ceria bernyanyi bersama. Anak-anak berlari menikmati sejuknya udara gunung. 
    Ada pengunjung yang bersantai di cafe-cafe. Ada yang memilih duduk-duduk dibawah rindangnya pohon. Semuanya ceria.
    Rasa lelah yang saya rasakan mulai berkurang. Sambil berdiri saya memandangi indahnya Kota Guang Zhou jika dilihat dari puncak Gunung Baiyun.  Gedung-gedung pencakar langit tampak kecil .Wah, berarti gunung ini tinggi sekali. Pantas kalau saya tadi sampai ngos-ngosan mendakinya (fikir saya membela diri). 
     Mungkin saya tidak akan merasa pemandangan seindah ini, jika tadi saya sampai di puncak dengan cara naik mobil (fikiran saya berkata lagi). Tapi, seandainya memang saya suatu saat kesini lagi, biarlah saya mencari cara yang paling mudah.  Lagipula, saya kan sudah pernah mencoba rute yang paling sulit. Jadi, cukuplah sekali seumur hidup dengan cara tadi hehehe...
      Hari makin siang, saya teringat untuk kembali ke rumah sakit lagi. Siapa tahu ada berita baik hari ini. Akhirnya saya berjalan turun. Wah, luar biasa lelahnya hari ini. Mudah-mudahan tak akan terlupakan selama hidup...


      

     









Ket. Beberapa foto di halaman ini diunduh dari Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar